Strategi Promosi Pencitraan

Strategi Promosi Pencitraan Promosi di Media Online

 

Public relations merupakan perantara antara pimpinan organisasi dengan publiknya, baik dalam upaya membina hubungan masyarakat internal maupun eksternal. Sebagai publik, mereka berhak mengetahui rencana kebijaksanaan, aktivitas, program kerja dan rencana-rencana usaha suatu organisasi atau perusahaan berdasarkan keadaan, harapan-harapan, keinginan-keinginan publik sebagai sasarannya.
Citra perusahaan di mata publik dapat terlihat dari pendapat atau pola pikir pada saat mempersepsikan realitas yang terjadi. Citra perusahaan adalah adanya persepsi yang berkembang di benak publik terhadap realitas. Realitas dalam Public relation adalah apa yang tertulis di media. Terbentuknya citra perusahaan karena adanya persepsi.
Menurut Kotler (Firsan Nova, 2011: 97) persepsi adalah “pandangan seseorang dalam menafsirkan suatu peristiwa berdasarkan informasi yang diterimanya.”
Untuk mendapatkan citra yang diinginkan, perusahaan harus memahami secara persis proses yang terjadi ketika publik menerima informasi mengenai kenyataan yang terjadi.
Public relation dalam menyampaikan pesan-pesan secara tepat sasaran mampu menghimpun awareness dari public dan menumbuhkan citra positif dari publik terhadap perusahaan. Citra yang baik akan menumbuhkan reputasi yang baik pula dari suatu perusahaan.
 Reputasi (nama baik) organisasi merupakan penilaian atas seluruh citra organisasi yang ada dalam benak masyarakat. Pengukuran reputasi umumnya disusun secara kualitatif. Meskipun ada indikator-indikator yang dapat menjadi acuan reputasi, sejatinya reputasi hanya dapat diukur melalui persepsi masyarakat. Pada pengambilan keputusan khalayak atau penyusunan kebijakan, maka reputasi merupakan salah satu komponen yang dinilai. Kepemimpinan organisasi, upaya yang telah dilakukan, filosofi perusahaan akan mencerminkan kredibilitas organisasi dan integritas anggota organisasi yang akan memberikan rasa percaya kepada masyarakat.
Berbagai program kerja dapat dilakukan olah Humas untuk membangun citra positif organisasi yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1)      Hubungan pers dimaknai dengan memahami seluk beluk dunia jurnalistik, serta landasan peraturan yang menjadi landasan hukumnya. Bentuk-bentuk kegiatan pers yang dapat dilakukan antara lain penyusunan press release, press conference, press briefing, press tour, press events, press coverage, hingga interview. Sementara sebagai penyeimbang, Humas juga perlu mengelola media internal, baik berupa majalah, newsletter, laporan berkala, laporan pencapaian (achievement report), media online, publikasi cetak (leaflet, brochure, poster, outdoor graphic) hingga liputan khusus untuk ditampilkan pada media internal.
2)      Unit pengelola database baik berupa gambar maupun materi audio visual serta pengolahannya adalah unit perpustakaan dan dokumentasi. Signifikansi unit ini adalah dokumentasi dapat menjadi bukti apabila diperlukan.
3)      Bagian Hubungan Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri menjadi liason officer organisasi. Badan ini perlu bertindak proaktif agar dapat menyusun kegiatan kerja sama yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Jaringan komunikasi dan kerja sama yang baik merupakan pintu gerbang terhadap terwujudnya citra positif organisasi dalam persepsi organisasi mitra. 
 
 strategi bisnis, ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan : 
  1.        Mudah diaksesnya media social dari perangkat yang sederhana hingga canggih
  2.        Simpelnya pesan cenderung mudah dicerna dalam waktu singkat
  3.       Upaya yang one to many, artinya di posting seseorang yang mewakili perusahaan namun bisa menjangkau banyak pelanggan
  4.        Cepat dalam distribusi informasi
  5.        Adanya notifikasi dalam bentuk email, sehingga informasi bisa diakses lebih dini dan cepat.
              Namun saat ini pentingnya membangun citra perusahaan menggunakan media sosial seperti facebook, twitter dan google plus masih terbatas  kepada upaya mendorong informasi perusahaan ke masyarakat, tidak dalam upaya melibatkan masyarakat untuk aktif, ini adalah salah satu kenapa media sosial masih sebagai peran yang dianggap tidak terlalu “atraktif”. Ini sangat disayangkan, karena bis dikemas dengan banyak metode untuk hal ini, agar memang memunculkan nilai-nilai yang atraktif.
              Atraktif dalam hal ini  harus menyeimbangkan antara upaya membangun reputasi dan membangun brand images. Kita ketahui reputasi lahir dari masyarakat, sedang brand images dikembangkan dan dibangun mulai dari perusahaan. Karena memang ada perbedaan dasar antara reputasi dan bradnd images.
        Setidaknya ada 3 alasan kenapa perusahaan harus focus kepada social media,
  1.          Upaya merangsang perhatian dari masyarakat luas melalui  social media
  2.       Bahwa dimensi social ini ada 2 sisi, publik dalam bahasa bisnis ada publik internal yaitu karyawan dan publik ekternal  yaitu masyarakat luas
  3.        Pro dan Kontra, bahwa dalam perjalanan upaya strategi marketing tentu ada pro dan kontra atau setuju dan kurang setuju, atau menerima dan kurang/tidak menerima, ada yang peduli dan tidak peduli. Sehingga peran  social media meningkatkan pengertian secara rutin dan juga dapat untuk mengukur sejauh mana kepedulian dari masyrakat, baik pro dan kontra.
 
Sekian Pembahan pada postingan ini, semoga bermanfaat, .......

0 Komentar